Makanan cepat saji (fast food) seperti makan yang dibekukan atau frozenfood yang juga menjadi makanan yang kebanyakan di jual oleh Frozmart sering di kategorikan sebagai makanan yang kurang baik untuk di konsumsi dikarenakan mengandung MSG. Anggapan-anggapan itu mungkin bukan tidak beralasan melainkan kelirunya pengetahuan yang diterima oleh masyarakat pada umumnya mengenai apa itu MSG dan cara mensiasatinya.  MSG tidak seburuk itu lho! Ah, masa sih?

MSG adalah singkatan dari Mono Sodium Glutamate, yang berfungsi menyajikan rasa sedap atau rasa perpaduan dari berbagai rasa yakni manis, asam, asin dan pahit. Maka dari itu, kebanyakan orang beranggapan bahwa rasa MSG adalah rasa yang paling sulit ditentukan masuk kedalam kategori rasa seperti apa. Sehinga orang Indonesia sering menyebutnya rasa gurih. MSG memang membuat masakan menjadi lebih gurih karena mengandung garam sodium dari asam glutamat tapi tidak mengandung nilai gizi melainkan hanya untuk meningkatkan cita rasanya.

Awalnya, MSG ramai diperbincangkan di China, karena banyak restoran di China yang kerap menambahkan MSG di dalam setiap masakan yang disajikan. Kemudian muncul istilah Chinese Restaurant  Syndrome (CRS) yang di buat-buat oleh mereka yang sensitive pada masakan di restroran china yang katanya 20 menit setelah keluar dari restoran china tersebut gejala yang dialami semua pelanggan adalah sama yaitu pusing, mual, dan lain-lain. Dan hal ingin pun mengundang kontroversi sampai saat ini.  Beberapa orang yang cerdas akan tetap mengacu pada U.S food and drugs administrasion (Badan pengawas makanan dan obat) di Amerika yang memaparkan bahwa MSG adalah produk yang aman untuk di konsumsi tentu dengan ketentuan/dosis yang telah di tetapkan.

Kemudian di adakan penelitian lebih lanjut mengapa gejala-gejala demikian terus timbul setelah makan di restoran cina yang memang menghidangkan makanan dengan campuran MSG lebih banyak daripada di Inggris, dan ternyata setelah di adakan penelitian lebih lanjut ternyata efek pusing dan mual habis makan MSG (chinese restaurant syndrome) ini bukan diakibatkan oleh MSG, tapi lebih tepatnya diakibatkan oleh glutamat!

Glumat? Bukankah glumat termasuk kedalam MSG?

Ya, MSG memang mengandung glumat namun kadar glumat yang terdapat pada MSG yang di sajikan di restoran tidaklah seberapa ketimbang kadar glumat yang tekandung dalam keju, jagung dan kacang polong yang juga disajikan bersamaan di dalam hidangan di restoran china tersebut. Sehingga kadar yang berlebihan inilah yang menjadi faktor pemicu timbulnya  chinese restaurant syndrome.

Beberapa penelitian juga mengatakan tubuh manusia mampu mengendalikan glumat tanpa terkecuali, Glutamat yang masuk dalam bentuk MSG ini, diabsorpsi oleh usus dan sebagian dimeetabolisme menjadi energi. Hanya sedikit sekali glutamat dari MSG yang masuk dalam aliran darah. Konsumsi glutamat dalam jumlah yang besar, misalnya di atas 5 gram, mungkin akan meningkatkan kadar nya di aliran darah, namun kadar tersebut akan surut kembali dalam 2 jam. Hal ini yang menjadi kesimpulan MSG aman dikonsumsi.

Paparan di atas merupakan salah kaprah besar yang memberikan efek sampai saat ini, sehingga beberapa orang masih mengatakan bahwa MSG tidak boleh untuk di konsumsi.

Tidak ada yang salah dalam anggapan itu, hanya saja kurangnya pengetahuan dan minimnya cara untuk mensiasati makanan cepat saji menjadi makanan yang bisa di konsumsi hari-hari. Perlu diketahui tidak ada satupun makanan yang sangat berbahaya bagi tubuh manusia jika di konsumsi dengan menjaga keseimbangan gizi dengan makanan tinggi serat. Dan pula, tidak ada satupun makanan yang sangat sehat untuk di konsumsi setiap hari tanpa di imbangi dengan keseimbangan gizi dan nutrisi lainnya. Dengan demikian cerdaslah untuk mensiasati olahan makanan menjadi makanan yang sangat aman untuk di konsumsi hari-hari, termasuk makanan yang dikatakan mengandung MSG.

2 thoughts on “MSG? Jangan salah kaprah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *